Amal Sederhana, Pengubah Dunia

By YDBP UI

March 26, 2015 | Tags: Motivasi | ... comments

Sesekali coba perhatikan baik-baik abang tukang bakso favorit Anda. Seperti apa ekspresi wajahnya saat Anda membeli bakso? Mungkin Anda tak pernah menaruh perhatian pada hal itu. Anda hanya perhatian pada rasa baksonya, besarnya kian hari, dan harganya. Saya juga begitu. Saya baru sadar bahwa abang tukang bakso juga tak kalah penting untuk diperhatikan setelah mendengar sebuah berita. Seorang ibu nekat minum racun serangga setelah memotong nadi tiga anaknya yang tengah tertidur lelap. Syukurlah usaha sang ibu tak berhasil. Baik bunuh dirinya maupun bunuh anak-anaknya. Mereka semua keburu terselamatkan lewat tindakan cepat seorang tukang bakso. Ayah dari anak-anak tadi dan suami dari si ibu. Abang tukang bakso mendapati kondisi mengenaskan tersebut sepulangnya dari berjualan bakso.

Saya baru sadar. Kita tak pernah tahu detail hidup orang yang kita temui. Kita tak tahu, dan mungkin tak merasa perlu tahu mengapa abang tukang bakso langganan kita hari ini melayani tanpa sapa. Mungkin kita memang tak perlu tahu. Tapi jika kita tahu apa yang sedang dialaminya hingga ia tak mampu ramah menyapa, apakah kita tak ingin sekedar berlaku sopan melipur lara hatinya? Saya percaya Anda yang peka perasaannya akan berkata ya. Bahkan jika bisa membantu membuatnya kembali tersenyum dan mampu menjejak dunia dengan tabah, Anda akan melakukannya. Hmm..jika ya, Anda mungkin punya bakat untuk jadi psikolog. 😉

Bukan hanya abang tukang bakso di berita tadi yang bisa bernasib malang (bahkan bisa dibilang tragis jika kasusnya seperti itu). Bisa tukang sayur, perawat rumah sakit, pelayan toko, kasir, penjual ikan asin di pasar dan…kita sendiri. Kemalangan yang sedang menimpa kita tentu semakin pahit rasanya jika berhadapan dengan sikap kasar dari orang lain. orang yang tak kita kenal tapi kita temui. Bayangkan jika kita sedang dirundung masalah, lantas sopir angkot yang kita tumpangi seenaknya kabur membawa kembalian ongkos kita. Semakin sewot kan rasanya. Atau saat kita sedang pusing memikirkan nasib, pelayan toko super jutek mengembalikan uang kita dalam wujud permen. Sungguh makan hati rasanya. Karena itulah, saya pikir konsep Islam tentang berlaku ihsan dan senantiasa berwajah manis sangat tepat dan humanis. Dalam ajaran agama Islam, berwajah manis pada orang yang kita temui adalah amal shalih yang tak pantas diremehkan. Saya yakin, dalam ajaran agama lain pun demikian. Mungkin Anda pernah merasakan, ketika hati sedang rungsing-rungsingnya, apoteker melayani kita dengan ramah. Bahkan menunjukkan kepedulian terhadap kondisi Anda. Tentu rasanya beda jika bertemu dengan apoteker yang melayani setengah hati, bahkan tanpa senyum.

Jadi..karena kita tak pernah tahu detail hidup orang yang kita temui, tak ada salahnya memberi senyum dan bersikap ramah. Siapa tahu, amal sederhana itu yang membantu kita membuka pintu surga.